Kamis, 27 Juni 2013

Film dan Sinetron

Seorang anak usia SD membunuh adiknya sendiri. Ibunya menangis meraung-raung. Histeris dan berteriak-teriak. Sementara, sang kakak -yang telah membunuh- hanya diam seribu bahasa. Ia sendiri tidak mengetahui kenapa adiknya tidak lagi  bernapas dan tertawa? Ia bingung melihat ibunya menangis-nangis? Ia belum memahami arti sebuah nyawa.

Anak yang telah mati tak mungkin dihidupkan kembali. Akan tetapi, kenapa kakaknya “tega” membunuh sang adik?

Cerita punya cerita, mereka berdua meniru sebuah acara ditelevisi yang menampilkan acara gulat di atas ring. Seorang pegulat mengangkat badan lawannya, lalu membanting dan dhempaskan diatas kanvas. Oleh sang kakak, gerakkan itu ditiru. Adiknya di angkat, lalu dilemparkan ke lantai dari atas tangga rumahnya. Na’udzu billah mindzalik.

Jangankan anak-anak, yang muda bahkan orang tua saja bisa terbawa oleh adegan dan gerakkan yang ditampilkan sebuah film atau sinetron. Parahnya lagi, generasi sekarang adalah kelanjutan dari genrasi  anak-anak yang dicekoki dengan film dan sinetron. Karakter dan waktak generasi muda sekarang sangat kental terpengaruh dengan karakter para pemain film dan sinetron.

Zaman kakek-kakek kita dahulu, seorang anak kecil berani menembus kelamnya malam, meskipun sendirian berjalan. Melintasi sebuah pemakaman bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi anak-anak kecil di masa itu. Sekarang orang tua memerintahkan anaknya untuk sekedar membeli gula pasir di wraung ujung jalan, anaknya hanya menjawab, “Takut, ibu. Jangan-jangan ada pocong! kalau ada drakula dan vampire gimana?”

Mentalnya mental televisi! Penakut!

Benarlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang terlahir pasti dalam keadaan diatas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan (menjadi sebab) anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi.”

Melalui hadits ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita bahwa anak-anak akan selalu berusaha meniru dan mengikuti apa yang ia lihat, apa yang ia dengar. Maka ciptakanlah lingkungan yang baik dan agamis, agar anak-anakpun menjadi baik dan agamis.

Seorang ulama salaf memiliki kebiasaan shalat malam di rumahnya. Suatu saat, anaknya yang masih kecil bertanya, “Apa yang ayah lakukan di malam hari jika bangun?” Ayahnya menjelaskan tentang keutamaan shalat maam dan pahalanya. Sang anak pun meminta ayahnya agar mau mengajarkan tata cara shalat malam.

Beberaa waktu kemudian, ayahnya terkejut ketika bangun di malam hari. Ternyata anaknya yang masih kecil lebih dahulu bangun dan melaksanakan shalat malam. Subhaanallah!

Berbeda sekali dengan kondisi anak-anak sekarang. Masih usia SD bahkan TK, apalagi SMP dan SMA, mereka sudah mengenal istilah pacaran. Mereka mempratikkan adegan di film dan  sinetron! Gerakan menggandeng tangan, surat-suratan, mengucapkan cinta, dan seterusnya. Maka buknalah suatu hal yang aneh jika seluruh badan satistik meliris bahwa mayoritas kaum muda dinegeri kita pernah melakukan seks sebelum menikah. Data dibanyak kantor agama juga turut membenarkan!!!

Sudahlah, sudalah dan sudahlah! Sudah cukup dan akhiri saja kesedihan ini! Marilah bersama-sama untuk mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang shalih dan shalihah. Jangan biarkan mereka menjadi mangsa terkaman budaya kafir! Jangan relakan mereka kehilangan jati diri sebagai pemuda pemudi muslimin! Jangan lepaskan mereka berwatak seperti watak pemain film! Film dan sinetron penuh dusta itu.!!! 

(Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i) (Sumber Majalah Tashfiyah, volume 3, edisi 27 1434H/2013M)

film-dan-sinetron

0 komentar:

Posting Komentar