Seorang
anak usia SD membunuh adiknya sendiri. Ibunya menangis meraung-raung.
Histeris dan berteriak-teriak. Sementara, sang kakak -yang telah
membunuh- hanya diam seribu bahasa. Ia sendiri tidak mengetahui kenapa
adiknya tidak lagi bernapas dan tertawa? Ia bingung melihat ibunya
menangis-nangis? Ia belum memahami arti sebuah nyawa.
Anak yang telah mati tak mungkin dihidupkan kembali. Akan tetapi, kenapa kakaknya “tega” membunuh sang adik?
Cerita punya cerita, mereka berdua meniru
sebuah acara ditelevisi yang menampilkan acara gulat di atas ring.
Seorang pegulat mengangkat badan lawannya, lalu membanting dan
dhempaskan diatas kanvas. Oleh sang kakak, gerakkan itu ditiru. Adiknya
di angkat, lalu dilemparkan ke lantai dari atas tangga rumahnya. Na’udzu
billah mindzalik.
Jangankan anak-anak, yang muda bahkan
orang tua saja bisa terbawa oleh adegan dan gerakkan yang ditampilkan
sebuah film atau sinetron. Parahnya lagi, generasi sekarang adalah
kelanjutan dari genrasi anak-anak yang dicekoki dengan film dan
sinetron. Karakter dan waktak generasi muda sekarang sangat kental
terpengaruh dengan karakter para pemain film dan sinetron.
Zaman kakek-kakek kita dahulu, seorang
anak kecil berani menembus kelamnya malam, meskipun sendirian berjalan.
Melintasi sebuah pemakaman bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi
anak-anak kecil di masa itu. Sekarang orang tua memerintahkan anaknya
untuk sekedar membeli gula pasir di wraung ujung jalan, anaknya hanya
menjawab, “Takut, ibu. Jangan-jangan ada pocong! kalau ada drakula dan
vampire gimana?”
Mentalnya mental televisi! Penakut!
Benarlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak yang terlahir pasti dalam
keadaan diatas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan (menjadi sebab)
anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi.”
Melalui hadits ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
mengingatkan kita bahwa anak-anak akan selalu berusaha meniru dan
mengikuti apa yang ia lihat, apa yang ia dengar. Maka ciptakanlah
lingkungan yang baik dan agamis, agar anak-anakpun menjadi baik dan
agamis.
Seorang ulama salaf memiliki kebiasaan
shalat malam di rumahnya. Suatu saat, anaknya yang masih kecil bertanya,
“Apa yang ayah lakukan di malam hari jika bangun?” Ayahnya menjelaskan
tentang keutamaan shalat maam dan pahalanya. Sang anak pun meminta
ayahnya agar mau mengajarkan tata cara shalat malam.
Beberaa waktu kemudian, ayahnya terkejut
ketika bangun di malam hari. Ternyata anaknya yang masih kecil lebih
dahulu bangun dan melaksanakan shalat malam. Subhaanallah!
Berbeda sekali dengan kondisi anak-anak
sekarang. Masih usia SD bahkan TK, apalagi SMP dan SMA, mereka sudah
mengenal istilah pacaran. Mereka mempratikkan adegan di film dan
sinetron! Gerakan menggandeng tangan, surat-suratan, mengucapkan cinta,
dan seterusnya. Maka buknalah suatu hal yang aneh jika seluruh badan
satistik meliris bahwa mayoritas kaum muda dinegeri kita pernah
melakukan seks sebelum menikah. Data dibanyak kantor agama juga turut
membenarkan!!!
Sudahlah, sudalah dan sudahlah! Sudah
cukup dan akhiri saja kesedihan ini! Marilah bersama-sama untuk mendidik
anak-anak kita menjadi generasi yang shalih dan shalihah. Jangan
biarkan mereka menjadi mangsa terkaman budaya kafir! Jangan relakan
mereka kehilangan jati diri sebagai pemuda pemudi muslimin! Jangan
lepaskan mereka berwatak seperti watak pemain film! Film dan sinetron
penuh dusta itu.!!!
(Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i) (Sumber Majalah Tashfiyah, volume 3, edisi 27 1434H/2013M)
0 komentar:
Posting Komentar