Pertanyaan:
Berkembangnya dakwah Salafiyah di kalangan masyarakat dengan
pembinaan yang mengarah kepada perbaikan ummat di bawah tuntunan
Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam adalah suatu hal yang
sangat disyukuri. Akan tetapi di sisi lain, orang-orang menyimpan dalam
benak mereka persepsi yang berbeda-beda tentang pengertian Salafiyah itu
sendiri sehingga bisa menimbulkan kebingunan bagi orang-orang yang
mengamatinya, maka untuk itu dibutuhkan penjelasan yang jelas tentang
hakikat Salafiyah itu. Mohon keterangannya!
Jawab:
Salafiyah adalah salah satu penamaan lain dari Ahlussunnah Wal Jama’ah yang
menunjukkan ciri dan kriteria mereka. Salafiyah adalah pensifatan yang
diambil dari kata سَلَفٌ (Salaf) yang berarti mengikuti jejak, manhaj
dan jalan Salaf. Dikenal juga dengan nama سَلَفِيُّوْنَ (Salafiyyun).
Yaitu bentuk jamak dari kata Salafy yang berarti orang yang mengikuti
Salaf. Dan juga kadang kita dengar penyebutan para ‘ulama Salaf dengan
nama As-Salaf Ash-Sholeh (pendahulu yang sholeh).
Dari keterangan di atas secara global sudah bisa dipahami apa yang
dimaksud dengan Salafiyah. Tapi kami akan menjelaskan tentang makna
Salaf menurut para ‘ulama dengan harapan bisa mengikis
anggapan/penafsiran bahwa dakwah Salafiyah adalah suatu organisasi,
kelompok, aliran baru dan sangkaan-sangkaan lain yang salah dan menodai
kesucian dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi
wa sallam ini. Kata Salaf ini mempunyai dua definisi; dari sisi bahasa
dan dari sisi istilah.
Definisi Salaf secara bahasa
Berkata Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab : “Dan As-Salaf juga adalah
orang-orang yang mendahului kamu dari ayah-ayahmu dan kerabatmu yang
mereka itu di atas kamu dari sisi umur dan keutamaan karena itulah
generasi pertama dikalangan tabi’in mereka dinamakan As-Salaf
Ash-Sholeh”.
Berkata Al-Manawi dalam At-Ta’arif jilid 2 hal.412 : “As-Salaf bermakna At-Taqoddum (yang terdahulu). Jamak dari salaf adalah أََسْلاَفٌ (aslaf)”.
Masih banyak rujukan lain tentang makna salaf dari sisi bahasa yang ini dapat dilihat dalam Mauqif Ibnu Taimiyyah minal ‘asya’irah jilid 1 hal.21.
Jadi, arti Salaf secara bahasa adalah yang terdahulu, yang awal dan
yang pertama. Mereka dinamakan Salaf karena mereka adalah generasi
pertama dari ummat Islam.
Definisi Salaf secara Istilah
Istilah Salaf dikalangan para ‘ulama mempunyai dua makna ; secara khusus dan secara umum.
Pertama:
Makna Salaf secara khusus adalah generasi permulaan
ummat Islam dari kalangan para shahabat, Tabi’in (murid-murid para
Shahabat), Tabi’ut Tabi’in (murid-murid para Tabi’in) dalam tiga masa
yang mendapatkan kemulian dan keutamaan dalam hadits mutawatir yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhary, Muslim, dan lain-lainnya di mana
Rasulullah shollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam menyatakan:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian generasi setelahnya kemudian generasi setelahnya”.
Makna khusus inilah yang diinginkan oleh banyak ‘ulama ketika
menggunakan kalimat Salaf dan saya akan menyebutkan beberapa contoh dari
perkataan para ‘ulama yang mendefinisikan Salaf dengan makna khusus ini
atau yang menggunakan istilah Salaf dan mereka inginkan dengannya makna
Salaf secara khusus.
Berkata Al-Bajury dalam Syarah Jauharut Tauhid hlm. 111: “Yang
dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu dari para Nabi
dan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka”.
Berkata Al-Qolasyany dalam Tahrirul Maqolah Syarah Ar-Risalah :
“As-Salaf Ash-Sholeh yaitu generasi pertama yang mapan di atas ilmu,
yang mengikuti petunjuk Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam lagi
menjaga sunnah-sunnah beilau. Allah memilih mereka untuk bershahabat
dengan Nabi-Nya dan memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya dan mereka
itulah yang diridhoi oleh para Imam ummat (Islam) dan mereka berjihad
di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad dan mereka mencurahkan
(seluruh kemampuan mereka) dalam menasehati ummat dan memberi manfaat
kepada mereka dan mereka menyerahkan diri-diri mereka dalam menggapai
keridhoan Allah”.
Dan berkata Al-Ghazaly memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf
dalam Iljamul ‘Awwam ‘An ‘ilmil Kalam hal.62 : “Yang saya maksudkan
dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan Tabi’in”.
Lihat Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy hal.31 dan Bashoir Dzawisy Syaraf Bimarwiyati Manhaj As-Salaf hal.18-19.
Berkata Abul Hasan Al-Asy’ary dalam Kitab Al-Ibanah Min Ushul Ahlid
Diyanah hal.21 : “Dan (diantara yang) kami yakini sebagai agama adalah
mencintai para ‘ulama salaf yang mereka itu telah dipilih oleh Allah
‘Azza Wa Jalla untuk bershahabat dengan Nabi-Nya dan kami memuji mereka
sebagaimana Allah memuji mereka dan kami memberikan loyalitas kepada
mereka seluruhnya”.
Berkata Ath-Thohawy dalam Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah : “Dan ulama
salaf dari generasi yang terdahulu dan generasi yang setelah mereka dari
kalangan Tabi’in (mereka adalah) Ahlul Khair (ahli kebaikan) dan Ahli
Atsar (hadits) dan ahli fiqh dan telaah (peneliti), tidaklah mereka
disebut melainkan dengan kebaikan dan siapa yang menyebut mereka dengan
kejelekan maka dia berada di atas selain jalan (yang benar)”.
Dan Al-Lalika`i dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama‘ah
jilid 2 hal.334 ketika beliau membantah orang yang mengatakan bahwa
Al-Quro dialah yang berada dilangit, beliau berkata : “Maka dia telah
menyelisihi Allah dan Rasul-Nya dan menolak mukjizat Nabi-Nya dan
menyelisihi para salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in dan
orang-orang setelahnya dari para ‘ulama ummat ini”.
Berkata Al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman jilid 2 hal.251 tatkala beliau
menyebutkan pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya : “Dan
mengenal perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, Tabi’in
dan orang-orang setelah mereka”.
Dan berkata Asy-Syihristany dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1
hal.200 : “Kemudian mengetahui letak-letak ijma‘ (kesepakatan) shahabat,
Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dari Salafus Sholeh sehingga ijtihadnya
tidak menyelisihi ijma‘ (mereka)”.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Bayan Talbis Al-Jahmiyah
jilid 1 hal. 22 : “Maka tidak ada keraguan bahwasanya kitab-kitab yang
terdapat di tangan-tangan manusia menjadi saksi bahwasanya seluruh salaf
dari tiga generasi pertama mereka menyelesihinya”.
Dan berkata Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzy jilid 9 hal.165 :
“…Dan ini adalah madzhab Salafus Sholeh dari kalangan shahabat dan
Tabi’in dan selain mereka dari para ‘ulama -mudah-mudahan Allah meridhoi
mereka seluruhnya-”.
Dan hal yang sama dinyatakan oleh Al-’Azhim Abady dalam ‘Aunul Ma’bud jilid 13 hal.7.
Kedua:
Makna salaf secara umum adalah tiga generasi terbaik
dan orang-orang setelah tiga generasi terbaik ini, sehingga mencakup
setiap orang yang berjalan di atas jalan dan manhaj generasi terbaik
ini.
Dan berkata Al-’Allamah Muhammad As-Safariny Al-Hambaly dalam Lawami’
Al-Anwar Al-Bahiyyah Wa Sawathi’ Al-Asrar Al-Atsariyyah jilid 1 hal.
20: “Yang diinginkan dengan madzhab salaf yaitu apa-apa yang para
shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah meridhoi mereka- berada di
atasnya dan para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dan yang
mengikuti mereka dan para Imam agama yang dipersaksikan keimaman mereka
dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima
perkataan-perkataan mereka…”.
Berkata Ibnu Abil ‘Izzi dalam Syarah Al ‘Aqidah Ath-Thohawiyah
hal.196 tentang perkataan Ath-Thohawy bahwasanya Al-Qur`an diturunkan
oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala : “Yakni merupakan perkataan para
shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan mereka itu adalah
Salafus Sholeh“.
Dan berkata Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan dalam Nazharat Wa Tu’uqqubat
‘Ala Ma Fi Kitab As-Salafiyah hal.21 : “Dan kata Salafiyah digunakan
terhadap jama’ah kaum mukminin yang mereka hidup di generasi pertama
dari generasi-generasi Islam yang mereka itu komitmen di atas Kitabullah
dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dari
kalangan shahabat Muhajirin dan Anshor dan yang mengikuti mereka dengan
baik dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mensifati
mereka dengan sabdanya : “Sebaik-baik manusia adalah zamanku kemudian
zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya….”.
Dan beliau juga berkata dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘An As`ilah
Al-Manahij Al-Jadidah hal.103-104 : “As-Salafiyah adalah orang-orang
yang berjalan di atas Manhaj Salaf dari kalangan Shahabat dan tabi’in
dan generasi terbaik, yang mereka mengikutinya dalam hal aqidah, manhaj,
dan metode dakwah”.
Dan berkata Syaikh Nashir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql dalam Mujmal Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama‘ah
hal.5 : “As-Salaf, mereka adalah generasi pertama ummat ini dari para
shahabat, tabi’in dan imam-imam yang berada di atas petunjuk dalam tiga
generasi terbaik pertama. Dan kalimat As-Salaf juga digunakan kepada
setiap orang yang berada pada setelah tiga generasi pertama ini yang
meniti dan berjalan di atas manhaj mereka”.
Asal Penamaan Salaf dan Penisbahan Diri kepada Manhaj Salaf
Asal penamaan Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah
sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam kepada putrinya
Fathimah radihyallahu ‘anha :
فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
“Karena sesungguhnya sebaik-baik salaf bagi kamu adalah saya”. Dikeluarkan oleh Bukhary no.5928 dan Muslim no. 2450.
Maka jelaslah bahwa penamaaan salaf dan penisbahan diri kepada manhaj
Salaf adalah perkara yang mempunyai landasan (pondasi) yang sangat kuat
dan sesuatu yang telah lama dikenal tapi karena kebodohan dan jauhnya
kita dari tuntunan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa alihi wa sallam, maka muncullah anggapan bahwa manhaj salaf
itu adalah suatu aliran, ajaran, atau pemahaman baru, dan
anggapan-anggapan lainnya yang salah.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa jilid 4 hal
149 : “Tidak ada celaan bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan
menisbahkan diri kepadanya dan merujuk kepadanya, bahkan wajib menerima
hal tersebut menurut kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya
madzhab salaf itu adalah tak lain kecuali kebenaran”.
Berikut ini saya akan memberikan beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa penggunaan nama salaf sudah lama dikenal.
Berkata Imam Az-Zuhry (wafat 125 H) tentang tulang belulang bangkai
seperti bangkai gajah dan lainnya : “Saya telah mendapati sekelompok
dari para ulama salaf mereka bersisir dengannya dan mengambil minyak
darinya, mereka menganggap (hal tersebut) tidak apa-apa”. Lihat : Shohih
Bukhary bersama Fathul Bary jilid 1 hal.342.
Tentunya yang diinginkan dengan ‘ulama salaf oleh Az-Zuhry adalah
para shahabat karena Az-Zuhry adalah seorang Tabi’i (generasi setelah
shahabat). Dan Sa’ad bin Rasyid (wafat 213 H) berkata: “Adalah para
salaf, lebih menyenangi tunggangan jantan karena lebih cepat larinya dan
lebih berani”. Lihat: Shohih Bukhary dengan Fathul Bary jilid 6 hal.66
dan Al-Hafizh menafsirkan kata salaf: “Yaitu dari shahabat dan
setelahnya”.
Berkata Imam Bukhary (wafat 256 H) dalam Shohihnya dengan Fathul Bary
jilid 9 hal.552 : “Bab bagaimana para ‘ulama salaf berhemat di
rumah-rumah mereka dan di dalam perjalanan mereka dalam makanan, daging
dan lainnya”.
Imam Ibnul Mubarak (wafat 181 H) berkata : “Tinggalkanlah hadits ‘Amr
bin Tsabit karena ia mencerca para ‘ulama salaf”. Baca : Muqoddimah
Shohih Muslim jilid 1 hal. 16.
Tentunya yang diinginkan dengan kata salaf oleh Imam Bukhary dan Ibnul Mubarak tiada lain kecuali para shahabat dan tabi’in.
Dan juga kalau kita membaca buku-buku yang berkaitan dengan
pembahasan nasab, akan didapatkan para ’ulama yang menyebutkan tentang
nisbah Salafy (penisbahan diri kepada jalan para ‘ulama salaf), dan ini
lebih memperjelas bahwa nisbah kepada manhaj salaf juga adalah sesuatu
yang sudah lama dikenal dikalangan para ‘ulama.
Berkata As-Sam’any dalam Al-Ansab jilid 3 hal.273 : “Salafy dengan
difathah (huruf sin-nya) adalah nisbah kepada As-Salaf dan mengikuti
madzhab mereka”.
Dan berkata As-Suyuthy dalam Lubbul Lubab jilid 2 hal.22 : “Salafy
dengan difathah (huruf sin dan lam-nya) adalah penyandaran diri kepada
madzhab As-Salaf“.
Dan saya akan menyebutkan beberapa contoh para ‘ulama yang dinisbahkan kepada manhaj (jalan) para ‘ulama salaf untuk menunjukkan bahwa mereka berada diatas jalan yang lurus yang bersih dari noda penyimpangan:
1. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13
hal.183 setelah menyebutkan hikayat bahwa Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawy
rahimahullah menghina ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu : “Kisah ini
terputus, Wallahu A’lam. Dan saya tidak mengetahui Ya’qub Al-Fasawy
kecuali beliau itu adalah seorang Salafy, dan beliau telah mengarang
sebuah kitab kecil tentang As-Sunnah”.
2. Dan dalam biografi ‘Utsman bin Jarzad beliau berkata: “Untuk
menjadi seorang Muhaddits (ahli hadits) diperlukan lima perkara, kalau
satu perkara tidak terpenuhi maka itu adalah suatu kekurangan. Dia
memerlukan: Akal yang baik, agama yang baik, dhobth (hafalan yang kuat),
kecerdikan dalam bidang hadits serta dikenal darinya sifat amanah”.
Kemudian, Adz-Dzahaby mengomentari perkataan tersebut, beliau berkata
: “Amanah merupakan bagian dari agama dan hafalan bisa masuk kepada
kecerdikan. Adapun yang dibutuhkan oleh seorang hafizh (penghafal
hadits) adalah : Dia harus seorang yang bertaqwa, pintar, ahli nahwu dan
bahasa, bersih hatinya, senantiasa bersemangat, seorang salafy, cukup
bagi dia menulis dengan tangannya sendiri 200 jilid buku hadits dan
memiliki 500 jilid buku yang dijadikan pegangan dan tidak putus semangat
dalam menuntut ilmu sampai dia meninggal dengan niat yang ikhlas dan
dengan sikap rendah diri. Kalau tidak memenuhi syarat-syarat ini maka
janganlah kamu berharap”. Lihat dalam Siyar A’lam An-Nubala` jilid 13
hal.280.
3. Dan Adz-Dzahaby berkata tentang Imam Ad-Daraquthny : “Beliau
adalah orang yang tidak akan pernah ikut serta mempelajari ilmu kalam
(ilmu mantik) dan tidak pula ilmu jidal (ilmu debat) dan beliau tidak
pernah mendalami ilmu tersebut, bahkan beliau adalah seorang salafy“.
Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 16 hal.457.
4. Dan dalam Tadzkirah Al-Huffazh jilid 4 hal.1431 dalam biografi
Ibnu Ash-Sholah, berkata Imam Adz-Dzahaby : “Dan beliau adalah seorang
Salafy yang baik aqidahnya”. Dan lihat : Thobaqot Al-Huffazh jilid 2
hal.503 dan Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23 hal.142.
5. Dalam biografi Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin
Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdasy, Imam Adz-Dzahaby berkata :
“Beliau adalah seorang yang terpercaya, tsabt (kuat hafalannya), pandai,
seorang Salafy…”. Baca Siyar A’lam An-Nubala` jilid 23 hal.18.
6. Dan dalam Biografi Abul Muzhoffar Ibnu Hubairah, Imam Adz-Dzahaby
berkata : “Dia adalah seorang yang mengetahui madzhab dan bahasa arab
dan ilmu ‘arudh, seorang salafy, atsary“. Baca Siyar A’lam An-Nubala`
jilid 20 hal.426.
7. Berkata Imam Adz-Dzahaby dalam biografi Imam Az-Zabidy : “Dia
adalah seorang Hanafy, Salafy“. Baca Siyar A’lam An-Nubala`jilid 20
hal.316.
8. Dan dalam Biografi Musa bin Ibrahim Al-Ba’labakky, Imam
Adz-Dzahaby berkata : “Dan demikian pula beliau seorang perendah hati,
seorang Salafy”. Lihat : Mu’jamul Muhadditsin hal.283.
9. Dan dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrony, Imam
Adz-Dzahaby Berkata : “Dia seorang yang beragama, orang yang sangat
baik, seorang Salafy”. Lihat : Mu’jam Asy-Syuyukh jilid 2 hal.280
(dinukil dari Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.18).
10. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam Lisanul Mizan
Jilid 5 hal.348 dalam biografi Muhammad bin Qasim bin Sufyan Abu Ishaq :
“Dan Ia adalah Seorang yang bermadzhab Salafy”.
Penamaan-Penamaan Lain Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Penamaan-Penamaan Lain Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Sebelum terjadi fitnah bid’ah perpecahan dan perselisihan dalam ummat
ini, ummat Islam tidak dikenal kecuali dengan nama Islam dan kaum
muslimin, kemudian setelah terjadinya perpecahan dan munculnya
golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan
mempropagandakan bid’ah dan kesesatannya dengan menampilkan bid’ah dan
kesesatan mereka di atas nama Islam, maka tentunya hal tersebut akan
melahirkan kebingungan di tengah-tengah ummat. Akan tetapi, Allah Maha
Bijaksana dan Maha Menjaga agama-Nya. Dialah Allah yang berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”. (Q.S. Al Hijr ayat 9).
Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak
di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka
sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan
seperti itu”.
Maka para ‘ulama salaf waktu itu yang merupakan orang-orang yang
berada di atas kebenaran dan yang paling memahami aqidah yang benar dan
tuntunan syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi
wa alihi wa sallam yang murni yang belum ternodai oleh kotoran bid’ah
dan kesesatan, mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syari’at
diambil dari Islam guna membedakan pengikut kebenaran dari
golongan-golongan sesat tersebut.
Berkata Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah :
لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ
لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا سَمّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ
“Tidaklah mereka (para ‘ulama) bertanya tentang isnad (silsilah
rawi). Tatkala terjadi fitnah mereka pun berkata : “Sebutkanlah kepada
kami rawi-rawi kalian maka dilihatlah kepada Ahlus Sunnah lalu diambil
hadits mereka dan dilihat kepada Ahlil bid’ah dan tidak diambil hadits
mereka.”
Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selain dikenal sebagai Salafiyah,
mereka juga mempunyai penamaan lain yang menunjukkan ciri dan kriteria
mereka.
Penulis
al-Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain hafidzahullah
Sumber:

0 komentar:
Posting Komentar