Al Ustadz Abu Ishaq Muslim.
Islam sebagai satu-satunya agama yang dipilih oleh Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya :
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran : 19)
Merupakan
kebenaran mutlak yang datang dari Allah Ta’ala dan tidak ada kebenaran
selain Islam, maka siapa yang menginginkan selain Islam berarti dia
memilih kebathilan dan dalam keadaan merugi.
Allah Ta’ala berfirman :
“Apakah
selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada
Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik
dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka
dikembalikan.” (Ali Imran : 83)
“Dan
siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan
diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang
yang merugi.” (Ali Imran : 85).
Agama
yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala dalam segala segi,
segala yang dibutuhkan hamba untuk kehidupan dunia dan akhiratnya telah
dijelaskan, sehingga tidak luput satu percakapan melainkan Islam telah
mengaturnya.
Allah
Ta’ala berfirman : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian
agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha
Islam sebagai agama kalian.” (Al Maidah : 3)
Al
Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata : “Ini
merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah telah
menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak butuh
kepada selain agama Islam dan tidak butuh kepada Nabi selain Nabi mereka
shalawatullahi wasalaamu alaihi. Karena itulah Allah menjadikan Nabi
ummat ini (Muhammad shallallahu alahi wasallam, pent.) sebagai penutup
para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin, maka
tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak
ada agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia
kabarkan adalah kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan
tidak ada penyuluhan.” (Tafsir Al Quranul Adzim 3/14. Dar Al Ma’rifat).
Pernah
datang seorang Yahudi kepada Umar Ibnul Khattab Radhiyallahu ‘anhu lalu
ia berkata : [ Wahai Amirul Mukminin! Seandainya ayat ini : "Pada hari
ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah
Kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama
kalian."... turun atas kami, niscaya kami akan jadikan hari turunnya
ayat tersebut sebagai hari raya. Maka Umar menjawab : "Sesungguhnya aku
tahu pada hari apa turun ayat tersebut, ayat ini turun pada hari Arafah
bertepatan dengan hari Jum'at." (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya nomor 45,4407,4606).
Ayat
yang menunjukkan kesempurnaan Islam ini memang patut dibanggakan dan
hari turunnya patut dirayakan sebagai hari besar. Namun kita tidak perlu
membuat-buat hari raya baru karena Allah menurunkannya tepat pada hari
besar yang dirayakan oleh seluruh kaum Muslimin, yaitu hari Arafah
dan hari Jum'at.
dan hari Jum'at.
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam sebagai utusan Allah Ta'ala kepada ummat
ini telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah dari Allah dengan
sempurna. Maka tidaklah beliau shallallahu alaihi wasallam wafat
melainkan beliau telah menjelaskan kepada ummatnya seluruh apa yang
mereka butuhkan.
Imam
Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Hudzaifah radhiyallahu
‘anhu, ia berkata : "Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam berkhutbah
di hadapan kami dengan suatu khutbah yang beliau tidak meninggalkan
sedikitpun perkara yang akan berlangsung sampai hari kiamat kecuali
beliau sebutkan ilmunya ... ." (Shahih Bukhari nomor 6604).
Imam
Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (juz 4 halaman 2217) dari Abu Zaid
Amr bin Akhthab radhiallahu 'anhu, ia berkata : "Rasullullah
shallallahu alaihi wasallam shalat Shubuh bersama kami.(Selesai shalat)
beliau naik ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu
Dhuhur, beliau turun dari mimbar dan shalat Dhuhur. Kemudian beliau naik
lagi ke mimbar lalu berkhutbah di hadapan kami hingga tiba waktu Ashar,
kemudian beliau turun dari mimbar dan shalat Ashar. (Setelah shalat
Ashar) beliau naik ke mimbar lalu mengkhutbahi kami hingga tenggelam
matahari. Dalam khutbah tersebut beliau mengabarkan pada kami apa yang
telah berlangsung dan apa yang akan berlangsung ... ."
Bid'ah Adalah Kesesatan
Dengan
kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan
penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih simpelnya hal-hal
ini diistilahkan bid'ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan
keras oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau :
"Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-baik
ajaran adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek perkara
adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya
sesuatu yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap
bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim no. 867)
Mengapa Bid'ah Dan Pembuatnya Dikatakan Sesat ?
Karena,
pertama, bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap ajaran agama ini belum
sempurna hingga perlu penyempurnaan dari hasil pemikiran manusia.
Dengan anggapan demikian berarti ia mendustakan firman Allah Ta'ala yang
memberikan kesempurnaan agama ini.
Kedua,
bisa jadi ia menganggap agama ini telah sempurna, namun ada perkara
yang belum disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang
berarti ia menuduh beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah
berkhianat dalam penyampaian risalah. Padahal para shahabat seperti Abu
Dzar radliyallahu anhu mempersaksikan : "Rasulullah meninggalkan kami
dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepak-ngepakkan kedua
sayapnya di udara kecuali beliau menyebutkan ilmunya pada kami."
Abu Dzar kemudian berkata :
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Tidaklah tertinggal sesuatu
yang dapat mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka kecuali telah
diterangkan pada kalian." (HR. Thabrani dalam Mu'jamul Kabir, lihat As
Shahihah karya Syaikh Albani rahimahullah 4/416 dan hadits ini memiliki
pendukung dari riwayat lain).
Imam
Malik rahimahullah berkata : Barangsiapa yang mengada-adakan dalam
Islam sesuatu kebid'ahan dan menganggapnya baik berarti ia telah menuduh
Rasulullah telah berkhianat dalam menyampaikan risalah.
Karena
Allah telah berfirman : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi
kalian agama kalian." Maka apa yang waktu itu (pada masa Rasulullah dan
para shahabat beliau) bukan bagian dari agama, (maka) pada hari ini pun
bukan bagiandari agama." (Lihat Al I'tisham oleh Imam Syathibi halaman
37)
Ketiga,
bisa jadi pembuat bid'ah itu menganggap dirinya lebih berilmu dibanding
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga dia tahu ada amalan
baik yang tidak diketahui dan tidak diajarkan oleh Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam.
Apakah Teranggap Niat Baik Seseorang Ketika Berbuat Bid'ah ?
Bagaimana
bila ada orang yang berkata bahwa ia membuat-buat amalan bid'ah atau
mengerjakannya dengan niat yang baik dan ikhlas karena Allah ? Maka
dijawab bahwa syarat diterimanya suatu amalan tidaklah sekedar niat baik
atau ikhlas, namun juga harus dibarengi dengan Mutaba'ah Ar Rasul
(mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam), adakah contohnya
dari beliau atau tidak.
Ibnu
Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala (yang
artinya) :"Maka siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya
hendaklah dia melakukan amal shalih dan janganlah dia menyekutukan
Rabb-nya dengan seorang pun dalam peribadatan kepada-Nya." (QS. Al Kahfi
: 10)
Beliau
rahimahullah berkata : [ Firman Allah : " ... hendaklah ia melakukan
amal shalih ... ." Yang cocok/sesuai dengan syariat Allah. Dan
firman-Nya : " ... dan janganlah dia menyekutukan Rabb-nya dengan
seorang pun dalam peribadatan kepada-Nya." Yang diinginkan dalam
beribadah tersebut adalah wajah Allah saja tanpa menyekutukan-Nya. Dua
rukun diterimanya amalan adalah (pertama) harus dilakukan ikhlas karena
Allah dan (kedua) amalan tersebut benar dan sesuai dengan syariat
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam." (Tafsir Ibnu Katsir 3/114) ].
Terhadap
firman Allah Ta’ala : “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan
agar Dia menguji kalian siapa yang paling baik di antara kalian
amalannya.” (QS. Al Mulk : 2) Al Fudlail bin Iyadl rahimahullah berkata :
“Amalan yang paling baik adalah amalan yang paling ikhlas dan paling
benar/tetap. Karena amalan yang hanya disertai keikhlasan namun tidak
benar maka amalan itu tidak diterima. Dan sebaliknya, bila amalan itu
benar namun tidak dibarengi keikhlasan juga tidak akan diterima.”
Pernah
datang tiga orang shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ke rumah
istri-istri beliau guna menanyakan tentang ibadah beliau. Tatkala
diberitahukan kepada mereka, mereka menganggapnya kecil dan mereka
berkata : “Apa kedudukan kita dibanding Nabi shallallahu alaihi
wasallam, beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang
belakangan.” Berkata salah seorang dari mereka : “Aku akan shalat
sepanjang malam tanpa tidur selamanya.” Yang kedua berkata : “Aku akan
berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Yang terakhir berkata :
“Aku akan menjauhi wanita maka aku tidak akan menikah selamanya.”
Lalu
datanglah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan ucapan-ucapan
mereka disampaikan kepada beliau, maka beliau bersabda : “Apakah kalian
yang mengatakan begini dan begitu ?! Ketahuilah! Demi Allah, aku adalah
orang yang paling takut kepada Allah dibanding kalian dan paling
bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku puasa dan aku berbuka, aku shalat
dan aku tidur, dan aku juga menikahi wanita. Siapa yang benci
(berpaling) terhadap sunnahku maka ia bukan dari golonganku (orang-orang
yang menjalankan sunnahku).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau
kita lihat keberadaan tiga orang ini maka kita dapatkan niatan mereka
yang baik yaitu untuk bersungguh-sungguh melakukan ibadah kepada Allah,
namun apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyetujui
perbuatan mereka? Jawabannya bisa kita lihat dari pernyataan beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Benar
sekali apa yang diucapkan oleh shahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu anhu : “Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada
bersungguh-sungguh dalam perbuatan bid’ah.”
Orang-orang
yang mengadakan bid’ah itu walaupun niatnya baik tetap tertolak dengan
dalil hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : “Siapa yang
mengada-adakan sesuatu amalan di dalam urusan (agama) kami ini dengan
yang bukan bagian dari agama ini maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari
dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Dan beliau bersabda :”Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada
perintahnya dari kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Karena itu yang wajib bagi kaum Muslimin adalah mencukupkan diri dengan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah ataupun menguranginya.
Adakah Bid’ah Hasanah ?
Tidak
ada dalam agama ini istilah pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah
(bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang jelek) karena
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menegaskan : “Setiap bid’ah
adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. Muslim
dalam Shahih-nya, sedang tambahannya diriwayatkan dalam Sunan Nasa’i)
Lalu bagaimana dengan ucapan Umar radhiallahu anhu ketika
melihat pelaksanaan shalat tarawih secara berjama’ah : “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya)
Maka kita katakan bahwa yang dimaukan oleh Umar dengan ucapannya
tersebut adalah pengertian bid’ah secara bahasa, bukan secara syari’at,
karena Umar mengucapkan perkataan demikian sehubungan dengan
berkumpulnya manusia di bawah satu imam dalam pelaksanaan shalat
tarawih, sementara shalat tarawih secara berjama’ah telah disyariatkan
oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dimana beliau sempat
mengerjakannya selama beberapa malam secara berjama’ah dengan para
shahabatnya, kemudian beliau tinggalkan karena khawatir hal itu
diwajibkan atas mereka. Sehingga setelah itu manusia mengerjakan tarawih
secara sendiri-sendiri atau dengan jama’ah yang terpisah-pisah
(berbilang/berkelompok-kelompok).
Lalu
pada masa pemerintahannya Umar radhiallahu ‘anhu, Umar radhiallahu
‘anhu mengumpulkan mereka di bawah pimpinan satu imam sebagaimana pernah
dilakukan di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, karena wahyu
telah berhenti turun dengan meninggalnya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dan berarti tidak ada lagi kekhawatiran diwajibkannya perkara
tersebut.
Dengan
demikian Umar radhiallahu ‘anhu menghidupkan kembali sunnah tarawih
secara berjama’ah dan ia mengembalikan sesuatu yang sempat terputus,
maka teranggaplah perbuatannya tersebut sebagai bid’ah dalam pengertian
bahasa, bukan pengertian syari’at, karena bid’ah yang syar’i hukumnya
haram, tidak mungkin Umar radhiallahu ‘anhu ataupun selainnya dari
kalangan shahabat melakukan hal tersebut, sementara mereka tahu
peringatan keras dari Nabi radhiallahu ‘anhu akan perbuatan bid’ah.
(Dzahirut Tabdi’, halaman 43-44).
Adapun
di masa Abu Bakar radiallahu anhu, sunnah tarawih secara berjama’ah ini
tidak sempat dihidupkan karena khilafah beliau hanya sebentar dan
ketika itu beliau disibukkan dengan orang-orang yang murtad dan enggan
membayar zakat, demikian keterangan Imam Syathibi dalam kitabnya Al
I’tisham, wallahu a’lam. Semoga Allah merahmati shahabat Nabi, Abdullah
Bin Umar radiallahu anhuma yang berkata : “Setiap bid’ah adalah sesat
sekalipun manusia memandangnya baik.”
Hukum Membuat Bid’ah Dalam Agama
Hukum
membuat bid’ah dalam agama adalah haram berdasarkan Al Qur’an, As
Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan ulama), karena membuat bid’ah berarti
menetapkan syariat yang menyaingi syariat Allah, yang berarti menentang
dan mengadakan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. (Hurmatul
Ibtida’ fid Dien wa Kullu Bid’atin Dlalalah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi,
halaman 8)
Contoh Bid’ah Dalam Hari Raya/Hari Besar Yang Disandarkan Kepada Islam
Dalam
syariat agama yang mulia ini hanya dikenal adanya dua hari raya/ied,
sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu
‘anhu :
Nabi
shallallahu alaihi wasallam datang ke Madinah dan ketika itu penduduk
Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bisa bersenang-senang di
dalamnya pada masa jahiliyyah, maka beliau bersabda : “Aku datang pada
kalian dalam keadaan kalian memiliki dua hari raya yang kalian
bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyyah. Dan sungguh Allah
telah menggantikan bagi kalian dua hari tersebut dengan yang lebih baik
yaitu hari Nahr (Iedul Adha) dan Iedul Fitri.” (HR Ahmad, Abu Daud,
Nasa’i dan Baghawi)
Iedul Adha dan Iedul Fitri lebih baik daripada dua hari raya yang
dimiliki penduduk Madinah karena Iedul Adha dan Iedul Fitri ditetapkan
dengan syariat Allah yang dipilih-Nya untuk hamba-Nya dan kedua hari
raya tersebut mengiringi dua amalan besar dalam Islam yaitu haji dan
puasa. Sedangkan hari Nairuz dan Mahrajan ditetapkan dengan pilihan
manusia. (Ahkamul Iedain fis Sunnatil Muthahharah, halaman15-16)
Apabila
kita telah mengetahui bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, maka
selain dari dua hari raya ini adalah hari raya yang diada-adakan
(bid’ah), kemudian dinisbahkan kepada agama.
Contohnya seperti :
-
Isra’ Mi’raj. Perayaan ini meniru perayaan Paskah (kenaikan Isa Al
Masih) umat Nashrani, padahal kita dilarang meniru orang-orang kafir,
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sendiri memperingatkan : “Siapa yang
meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum
tersebut.”
- Perayaan Nuzul Qur’an
tersebut.”
- Perayaan Nuzul Qur’an
- Perayaan tahun baru Islam 1 Muharram, yang meniru perayaan tahun baru Masehi.
- Maulid Nabi, yang meniru Nashrani dalam perayaan Natal.
- Maulid Nabi, yang meniru Nashrani dalam perayaan Natal.
- Dan lain-lain.
Bila
ada yang mengatakan bahwa orang-orang yang mengadakan dan merayakan
perayaan seperti Maulid Nabi adalah karena cinta kepada Nabi shallallahu
alaihi wasallam dan mengagungkan beliau, maka kita jawab bahwa para
shahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan generasi terbaik setelah
mereka (generasi Salafus Shalih) tidak pernah melakukan hal tersebut,
padahal mereka adalah orang-orang yang tidak diragukan kecintaannya
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tidak disangsikan
pengagungan mereka kepada beliau, serta mereka adalah orang-orang yang
sangat bersemangat untuk melakukan amalan kebajikan. Seandainya perayaan
Maulid itu baik, niscaya mereka adalah orang pertama yang melakukannya.
Dan demikian yang kita katakan terhadap setiap amalan yang diada-adakan
dalam agama ini. Seandainya amalan itu baik maka para pendahulu kita
yang shalih tentunya telah mendahului kita dalam mengamalkannya.
Ketahuilah,
pernyataan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan
diwujudkan dengan mengadakan perayaan seperti Maulid, namun bukti cinta
kepada beliau diwujudkan (dibuktikan) dengan mengikuti beliau, menaati,
mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnahnya baik secara lahir maupun
batin, menyebarkan dakwah beliau, berjihad untuk menegakkan dakwah baik
dengan hati, lisan, maupun anggota badan. Inilah jalan yang ditempuh
oleh As Sabiqunal Awwaluna dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Jalan Keluar dari Kebid’ahan
Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam banyak haditsnya jalan
keluar dari kebid’ahan jauh sebelum terjadinya bid’ah. Beliau bersabda :
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalau kalian berpegang
teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku
selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Hakim dan dishahihkan
dalam Shahihul Jami’ oleh Syaikh Albani rahimahullah)
Beliau juga menasehatkan : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk takwa
kepada Allah Azza wa Jalla, taat dan mendengar sekalipun kalian dipimpin
oleh seorang hamba sahaya karena siapa saja diantara kalian yang hidup
sepeninggalku niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka
(ketika itu) wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan
sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah
dengan gigi gerahammu dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang
baru karena setiap yang bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi,
ia berkata hadits hasan shahih)
Satu-satunya
jalan menyelamatkan diri dari bid’ah adalah berpegang teguh pada dengan
Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta
Petunjuk Salafus Shalih, pemahaman mereka, manhaj mereka, dan pengamalan
mereka terhadap dua wahyu, karena mereka adalah orang yang paling besar
cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, paling kuat ittiba’-nya, paling
dalam ilmunya dan paling luas pemahamannya terhadap Al Qur’an dan As
Sunnah.
Dengan
cara ini seorang Muslim akan mampu berpegang teguh dengan agamanya dan
bebas dari segala kotoran yang mencemari dan jauh dari semua kebid’ahan
yang menyesatkan. Dan jalan ini mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bishawwab.

0 komentar:
Posting Komentar